August 2016 - R's Journal

Friday, August 05, 2016

Contoh Naskah Moderator
Friday, August 05, 20160 Comments

Contoh Text Moderator
(Praktek menjadi seorang Moderator SMA Stella Duce 2 Yogyakarta)

Selamat Siang dan salam Sejahtera bagi kita semua.
Yth Ibu Evie Kusuma Dewi selaku Guru pembimbing……………………….
Dan teman sejawat kelas XI IPA 2 yang berbahagia.
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat nya kita semua dapat berkumpul ditempat ini dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun.
Topik yang akan kami bicarakan adalah mengenai Bahaya Mengkonsumsi Junkfood dalam jangka waktu panjang. Saya Monica Maharani Sitompul selaku moderator akan membimbing jalannya diskusi ini, sebelumnya saya akan memperkenalkan anggota kelompok ini, Yang perama adalah Monica Cherlyn Sarjananto sebagai panelis, serta Refira Ega sebagai notulis.
Rangkaian acara yang akan kita lewati, diantaranya :
1. Pembukaan
2. Penyajian materi
3. Sesi tanya jawab
4. Penutup




berhubung sesi pembukaan telah dilaksanakan, marilah kita berpindah ke sesi selanjutnya yaitu penyajian materi, saya memberi kesempatan kepada Panelis untuk membacakan hasil diskusi.
Panelis : terimaksih kepada moderator ——
- saya kembalikan kepada moderator
Moderator : terimakasih kepada penyaji



Selanjutnya adalah sesi tanya jawab, dengan peraturan yang akan saya bacakan :
1. Kesempatan tanya jawab kita laksanakan dengan 2 termin, setiap termin kami buka 3 pertanyaan dan setiap pertanyaan kami berikan 2 sanggahan.
2. Waktu tanya jawab kami batasi 5 menit
3. Selama proses diskusi berlangsung, audiens diharapkan untuk tenang.



Moderator : dipersilahkan bagi audiens yang ingin bertanya
Audiens : nama ………, kelompok …………… mau bertanya ………….
Moderator : bagaimana kelompok apakah sudah memahami pertanyaan, tolong ulangi lagi
Moderator : saya mempersilahkan penyaji untuk menyampaikan jawabannya
Moderator : bagaimana penanya apakah sudah sesuai?
Demikian tadi diskusi kelompok ……….., mari kita mengucapkan.
Saya sebagai moderator mohon maaf atas kesalahan saya, marilah kita beri aplouse (tepuk tangan)
Terima Kasih
Saya kembalikan kepada guru pembimbing


Reading Time:
Contoh Merangkum Buku : Guru Demokrasi di Era Reformasi Karya Paul Suparno
Friday, August 05, 20160 Comments
Untuk informasi lebih lengkap mengenai buku:


TUGAS BAHASA INDONESIA
MERANGKUM BUKU







Oleh :


Monica Maharani Sitompul
XI IPA 2/ 23




SMA STELLA DUCE 2 YOGYAKARTA
2015/2016





Guru Demokratis di Era Reformasi

    Di era demokrasi ini tantangan dalam dunia pendidikan sangat besar terutama bagi profesi guru. Dengan adanya situasi masyarakat yang lebih demokratis, cara guru membantu siswa dalam belajar dan relasi guru dengan siswa menjadi berubah. Sekarang ini dubutuhkan guru-guru yang kritis dan bersikap sebagai seorang intelektual yang secara aktif dapat ikut memajukan masyarakat. Oleh karena itu, disini dibutuhkan guru yang bukan hanya mau mencari penghasilan, tetepi menghayati tugasnya dan mendedikasikan dirinya untuk memperjuangkan kehidupan orang muda yang sangat dibutuhkan Bangsa Indonesia saat ini.
    untuk menjadi guru yang baik, tidak cukup hanya bermodalkan ilmu pengetahuan. Guru juga membutuhkan penghayatan dalam diri mereka bahwa tugas mereka adalah suatu panggilan sehingga mereka menjadi lebih gembira, tekun, dan dedikasi terhadap tugasnya membantu siswa berkembang. Disamping itu, pekerjaan guru akan disebut sebagai panggilan hidup bila pekerjaan itu membantu untuk mengembangkan orang lain dan memiliki unsur sosial, serta pekerjaan itu juga mengembangkan dan memenuhi diri guru sebagai pribadi, bukan pertama-tama mencari nafkah atau uang.
    Pada masa reformasi ini kita menginginkan agar demokrasi semakin dikembangkan di negara Indonesia. Untuk mengembangkan demokrasi perlulah masyarakat belajar hidup berdemokrasi. Proses belajar berdemokrasi itu akan lebih lancar dan terarah bila dimulai sejak mmasa kanak-kanak selama disekolah. Itulah sebabnya pendidikan demokrasi perlu ditanamkan
    Tugas guru sebagai pendidik dan pengajar yang demokratis memerlukan beberapa kompetensi atau kemampuan yang sesuai seperti kompetensi kepribadian, bidang studi, dan pendidikan atau pembelajaran. Kompetensi tersebut selalu harus dikembangkan dan diolah sehingga  semakin tinggi. Dengan kompetensi yang semakin tinggi, diharapkan guru dapat melakukan tugas panggilannya lebih baik dan bertanggungjawab.
    Reformasi pendidilkan di Indonesia kurang berjalan lancar dan berhasil, terutama mengenai pendidikan nilai, karena kurang adanya teladan dalam hal itu. Di sekolah guru mengajarkan tentang kejujuran, kedisiplinan, penghargaan terhadap orang lain, tetapi diluar sekolah yang ditemukan adalah korupsi, penipuan, orang yang bekerja seenaknya, dan konflik yang memakan nyawa dimana-mana. Banyak perilaku dari masyarakat yang membuat siswa-siswa di Indonesia susah menangkap, apalagi mencerna nilai-nilai baik yang diajarkan disekolah. Penanaman nilai itu akan lebih runyam lagi bila di sekolah sendiri tidak ditemukan perilaku guru atau pendidik yang sesuai dengan yang mereka ajarkan.
    Bila di luar sekolah teladan hidup tidak banyak, minimal sekolah diharapkan guru dan semua petugas pendidikan di sekolah dapat menjadi teladan dalam nilai-nilai hidup baik. Minimal guru dan tenaga pendidikan di sekolah melakukan apa yang mereka ajarkan kepada anak didik. Disinilah peran guru sebagai tenaga pendidik sangat diperlukan. Mereka harus memberi teladan dalam hidup mereka terlebih selama di sekolah. Dengan demikian maka kehidupan guru sendiri perlu ditingkatkan, terlebih dalam hal moral, religiositas, dan nilai. Bila guru tidak bernilai, maka dalam mengajarkan nilai ia hanya akan ditertawakan siswa.
    Tantangan guru di jaman sekarang ini sangat besar. Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang. Banyak penemuan-penemuan baru dalam berbagai bidang terus muncul. Pengaruh globalisasi, budaya instant, media sosial dan masih banyak lagi. Dengan segala pengaruh ini, tantangan dalam dunia pendidikan menjadi lebih besar. Tantangan itu semua menuntut seorang guru  juga terus berkembang. Guru diharapkan sebagai seorang pemikir, seorang intelektual. Sebagai seorang yang intelektual guru diharapkan mengembangkan sikap-sikap yang dikembangkan oleh seorang intelektual yaitu terus belajar, berfikir kritis, bebas, dan rasional, mengembangkan angan-angan, aktif mencari, berani bertindak dan bertanggungjawab, menjadi agen perubahan, merefleksikan diri, membela kebenaran, serta memperjuangkan keadilan, demokrasi, dan suara hati agar mampu bersaing dengan segala tantangan yang ada di jaman sekarang ini.
     Menjadi pendidik dan pengajar di jaman sekarang ini tidaklah mudah. Tantangannya begitu banyak dan besar. Oleh karena tugas yang begitu berat, agar dapat tetap jalan, dibutuhkan guru yang mengembangkan sikap-sikap dan semangat antara lain cinta kepada siswa, menghargai nilai kemanusiaan lebih dari aturan formal, serta sikap membebaskan dan bukan membelenggu.
    Seorang guru tidak pernah menjadi guru yang baik sendirian saja, meski dia sangat hebat. Dalam proses membantu anak didik berkembang, seorang guru mau tidak mau harus bekerjasama dengan rekan guru lain, dengan pegawai sekolah, dan dengan kepala sekolah bahkan orang tua murid agar proses pendidikan dapat berjalan dengan lancar.
    Guru tinggal di tengah masyarakat, menjadi bagian masyarakat. Maka mereka diharapkan juga ikut andil didalam masyarakat. Selain itu tugas guru juga membantu anak didik untuk nantinya berpartisipasi aktif dalam masyarakat, maka guru diharapkan aktif dalam perkembangan masyarakat itu sehingga dapat membantu anak didik dengan lebih baik
    Dalam reformasi pendidikan ini, harapan kita setiap guru menjadi pendidik yang lebih demokratis, lebih bersikap sebagai seorang intelektual yang kreatif, inovatif, dan berani mengambil keputusan. Guru juga diharapkan dapat membantu mengembangkan anak didik berkembang lebih holistik dan lebih memperhatikan anak didik yang mempunyai persoalan. Dan tak kala penting guru diharapkan mau menjadi teladan hidup yang baik bagi anak didik, sehingga mereka harus terus memperbaiki diri, mengembangkan diri, dan terus mau belajar. Tanpa semangat untuk terus belajar baik dalam ilmu pengetahuan maupun cara membantu anak didik, guru akan berhenti dan menjadi kolot. Bila hal ini terjadi, maka pendidikan di negara ini tidak akan pernah maju untuk menang dan bersaing dengan negara lain.
   




By: Monica Maharani Sitompul
   

Reading Time:

Instagram - @Rsjournale

@way2themes